SEMARANG – Masih tingginya impor jagung dan kedelai menjadikan keresahan bersama dari semua pihak. Ditambah dengan rendahnya produktivitas menjadikan perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi jagung dan kedelai. Provinsi Jawa Tengah dengan potensi yang ada menjadi salah satu daerah yang bisa dikembangkan menjadi sentra produksi dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional.

Untuk mendukung cita-cita tersebut, Universitas Diponegoro menginisiasi adanya focus group discussion antar semua stakeholder yang terlibat. Dalam acara yang digelar di Fakultas Peternakan dan Pertanian tersebut, hadir perwakilan dari Bulog, Pusri, Batan, Instansi Pemerintah, Perbankan, dan Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah. FGD ini menetapkan Wonogiri dan Grobogan menjadi dua lokasi utama untuk mengujicobakan penelitian terbaru guna meningkatkan produksi jagung dan kedelai.

Dalam pembahasan itu, Epi Sulandari dari Bulog Pusat menjelaskan bahwa keterjangkauan harga dan kemudahan mendapatkan hasil panen adalah suatu keharusan sehingga perlu adanya kolaborasi dari semua stakeholder. Bulog kemudian berkomitmen untuk membuat corn drying chamber dan PT. Pusri akan memfasilitasi dari segi formulasi pupuk.

Pertemuan yang berlangsung selama 3 jam tersebut juga membahas beragam agenda kerjasama. Kerjasama yang akan berjalan selama 5 tahun ini diharapkan bisa merumuskan teknologi budidaya yang tepat, merumuskan teknologi pascapanen dan pengolahan limbah jagung dan kedelai, serta untuk meningkatkan nilai tambah. Sehingga memang perlu adanya komitmen dan kerja nyata, tidak sekedar rekomendasi semata.

Dr. Bambang W.H.E.P selaku Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP menyatakan bahwa Jawa Tengah sudah saatnya menajdi lumbung jagung dan kedelai di Indonesia karena potensinya yang besar. Namun, untuk mencapai itu semua butuh adanya sinergitas dari semua pihak mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari pengadaan pupuk hingga penjualan hasil panennya.