Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengadakan forum diskusi bertajuk “Dari Ladang ke Kebijakan: Meningkatkan Suara Petani untuk Transisi Pedesaan yang Adil”yang diselenggarakan Rabu (11/3/2026), di Balai Desa Ngurensiti, Kabupaten Pati. Kegiatan ini menghadirkan petani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, akademisi, researcher dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) serta pemangku kepentingan lainnya dalam satu ruang dialog untuk memperkuat posisi petani sebagai aktor utama dalam pembangunan pertanian.
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) merupakan lembaga pemikir independen, nirlaba, dan non-partisan yang mengadvokasi reformasi kebijakan praktis yang diinformasikan oleh penelitian dan analisis kebijakan berbasis bukti.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan petani, akademisi, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan dalam rangka memperkuat peran petani sebagai subjek utama dalam pembangunan pertanian.
Dr. Tutik Dalmiyatun hadir sebagai akademisi yang memiliki perhatian terhadap isu pemberdayaan masyarakat dan pembangunan pertanian berbasis partisipasi. Dalam kegiatan tersebut, beliau terlibat aktif dalam sesi diskusi tematik yang membahas berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan akses terhadap input pertanian, risiko perubahan iklim, hingga keberlanjutan mata pencaharian petani.
Dalam forum tersebut, Dr. Tutik Dalmiyatun menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam melihat peran petani dalam kebijakan pertanian.
“Petani tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengetahuan dan pengalaman berharga dalam merumuskan kebijakan pertanian yang lebih kontekstual dan memiliki dampak langsung kepada petani,” ujar Dr. Tutik.
Diskusi juga mengangkat berbagai isu strategis yang dihadapi petani, seperti keterbatasan akses terhadap input pertanian, risiko perubahan iklim, hingga tantangan keberlanjutan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Pati. Kegiatan ini juga menghadirkan pendekatan inovatif melalui metode photovoice, di mana para petani menyampaikan pengalaman dan perspektif mereka melalui media visual (foto) yang menggambarkan realitas kehidupan dan tantangan di lapangan.
Melalui pendekatan photovoice, petani diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung melalui visual yang merepresentasikan kondisi nyata di lapangan. Metode ini dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara pengalaman empiris petani dengan perumusan kebijakan yang selama ini cenderung bersifat top-down.
Menurut Dr. Tutik, pendekatan partisipatif ini menjadi langkah penting dalam menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan realitas petani.
“Pendekatan berbasis partisipasi mampu menghadirkan suara petani secara lebih autentik. Ini menjadi dasar penting dalam menciptakan kebijakan yang tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berkelanjutan,” tambahnya.
Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan perwakilan mahasiswa Agribisnis Universitas Diponegoro yang turut berpartisipasi aktif dalam diskusi yaitu Qaila Zahra Mahasiswa Agribsinis 2023 dan Hanafi Mahasiswa Agribisnis 2024. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik lapangan.
“Mahasiswa harus mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan mereka dalam forum seperti ini akan meningkatkan sensitivitas sosial sekaligus memperkaya perspektif mereka,” jelas Dr. Tutik.
Forum ini menjadi wadah penting untuk pertukaran gagasan lintas aktor serta mendorong kolaborasi dalam merumuskan strategi pembangunan pertanian yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan petani. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan sinergi antara akademisi, petani, dan pemangku kebijakan semakin kuat dalam mendorong transformasi pembangunan pertanian yang berkeadilan dan berkelanjutan, serta menjadikan suara petani sebagai landasan utama dalam setiap proses perumusan kebijakan di tingkat lokal maupun nasional.

