Tanaman kelor (Moringa Oleifera) merupakan tanaman yang mempunyai kandungan gizi bermanfaat, seperti vitamin A, zat besi, vitamin C, Kalsium, dan protein. Maka dari itu tanaman kelor mendapat berbagai julukan, antara lain, Tree for Life, The Miracle Tree, dan Amazing Tree. Julukan tersebut diperoleh dari Sehingga dengan kandungan bermanfaat tersebut dapat memberikan kegunaan dalam hal pangan, kosmetik, dan industri. Pada umumnya dilingkup masyarakat, tanaman kelor digunakan sebagai salah satu tanaman sayur dan obat.

Seperti halnya yang dilakukan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Sayuri yang terletak di Jl. Jrobang RW 8, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Disana terdapat kebun tanaman kelor yang dijadikan komoditas unggulan di wilayah tersebut. KWT Sayuri ini terbentuk pada tahun 2013 dan diketuai oleh Bu Uli selaku warga setempat. KWT Sayuri juga sudah mempunyai produk olahan dari tanaman kelor, yaitu diolah menjadi teh kelor. Pemasaran hasil produknya cukup tinggi dan sudah mulai tersebar sampai ke luar kota.

Namun sayangnya saat ini terdapat kendala dalam budidaya tanaman kelor yang diterapkan oleh KWT Sayuri yaitu banyaknya daun tanaman kelor yang keriting dan adanya hama kutu daun. Anggota KWT Sayuri masih kesulitan dalam menemukan solusi untuk pencegahan hama tersebut. “di kami itu masih kesulitan dalam menangani hama kutu daun yang ada di tanaman kelor, sehingga banyak daun-daun yang cepat keriting dan menguning” ujar Bu Uli selaku ketua KWT Sayuri.

Pada kesempatan kali ini mahasiswa KKN Tim 2 tahun 2021 Universitas Diponegoro menawarkan solusi alternatif dalam pencegahan hama kutu daun yang terdapat pada tanaman kelor. Solusi yang ditawarkan yaitu dengan membuat pestisida nabati dengan bahan dasar menggunakan bawang putih. Hal ini dilakukan karena terdapat senyawa kimia yang terkandung dalam bawang putih antara lain tanin, minyak atsiri, dialilsulfida, aliin, alisin, dan enzim aliinase, yang bersifat sebagai insektisida, nematisida, fungisida dan antibiotik

Selain itu bahan dasar pestisida nabati bawang putih juga mudah didapatkan pada skala rumah tangga. Sehingga para anggota KWT Sayuri dapat membuat secara mandiri dan tentunya termasuk dalam kategori pestisida organik. Cara pembuatannya pun cukup mudah antara lain yaitu:

• Campurkan bawang putih yang sudah dicacah sebanyak 85gr dengan minyak sayur sebanyak 50ml
• Diamkan selama 24 jam atau satu hari satu malam
• Setelah didiamkan selama 24 jam, rendaman bawang putih disaring, setelah itu tambahkan 10ml sabun cair/deterjen dan air sebanyak
kurang lebih satu liter
• Aduk hingga rata
• Pestisida nabati siap digunakan
• Setelah selesai digunakan dan jika masih terdapat sisa pestisida dapat bertahan selama 3 hari. Jika lebih dari 3 hari, alangkah
baiknya dibuang dan membuat yang baru.

Ketua KWT Sayuri yaitu Bu Uli sangat menyambut baik dari maksud dan tujuan adanya program KKN yang dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Diponegoro dalam pembuatan pestisidan nabati dari ekstrak bawang putih. Harapannya, seluru anggota KWT Sayuri dapat membuat pestisida nabati secara mandiri dan akan berpengaruh dalam pencegahan hama dan perkembangan dari komoditas unggulan yang ada di Jl. Jrobang RW 8 tersebut.